Headlines News :
Showing posts with label Dunia Rohani. Show all posts
Showing posts with label Dunia Rohani. Show all posts

Ternyata Islam Sudah Ada di Amerika Jauh Sebelum Kedatangan Colombus





السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو Ù„ الله

الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد



Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.



Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.





Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.





Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.





Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.





Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.





Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)





Subhanallah….



Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?



Sejarahnya panjang,



Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.



Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.





Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).



Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.



Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.





Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.



Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).



Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.





Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.



Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.



Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.



Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.





Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.



Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.



Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]



Dan mengapa hanya Columbus saja yang sampai saat ini dikenal sebagai penemu benua amerika? Karena saat terjadi pengusiran kaum yahudi dari spanyol sebanyak 300.000 orang yahudi oleh raja Ferdinand yang Kristen, kemudian orang-orang yahudi menggalang dana untuk pelayaran Columbus dan berita ‘penemuan benua Amerika’ dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol.



Pelayaran Columbus ini nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai dengan ‘pesan sponsor’ Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang bahkan dibenci oleh orang-orang seperti Henry Ford si raja mobil Amerika itu.





Maka tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi yang terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa menjejakkan kaki ke benua Amerika.



Dan tahukah anda? sebenarnya laksam ana Zheng He atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama laksamana Cheng Ho adalah penemu benua amerika pertama, sekitar 70 tahun sebelum Columbus.



Sekitar 70 tahun sebelum Columbus menancapkan benderanya di daratan Amerika, Laksamana Zheng He sudah lebih dulu datang ke sana. Para peserta seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu dibuat terperangah. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya dan lantas mendapat perhatian besar.



Tampil penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He (kita mengenalnya dengan Ceng Ho-red). Bersama bukti-bukti yang ditemukan dari catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa pelaut serta navigator ulung dari masa dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus.





Bahkan menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’ Columbus dengan rentang waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat kehebohan lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa Columbus-lah si penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Pernyataan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.



Adalah sebuah peta buatan masa sebelum Columbus memulai ekspedisinya lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Zheng He yang dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu.



Cherokee syllabary”Laksana inilah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai penemu pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern seperti melalui program software Starry Night.



Dari bukti-bukti kunci yang bisa mengubah alur sejarah ini, Menzies mengatakan bahwa sebagian besar peta maupun tulisan navigasi Cina kuno bersumber pada masa pelayaran Laksamana Zheng He. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Sebelumnya armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika Selatan.





Uraian astronomi pelayaran Zheng He kira-kira menyebut, pada larut malam saat terlihat bintang selatan sekitar tanggal 18 Maret 1421, lokasi berada di ujung selatan Amerika Selatan. Hal tersebut kemudian direkonstruksi ulang menggunakan software Starry Night dengan membandingkan peta pelayaran Zheng He.



“Saya memprogram Starry Night hingga masa di tahun 1421 serta bagian dunia yang diperkirakan pernah dilayari ekspedisi tersebut,” ungkap Menzies yang juga ahli navigasi dan mantan komandan kapal selam angkatan laut Inggris ini. Dari sini, dia akhirnya menemukan dua lokasi berbeda dari pelayaran ini berkat catatan astronomi (bintang) ekspedisi Zheng He.



Lantas terjadi pergerakan pada bintang-bintang ini, sesuai perputaran serta orientasi bumi di angkasa. Akibat perputaran bumi yang kurang sempurna membuat sumbu bumi seolah mengukir lingkaran di angkasa setiap 26 ribu tahun. Fenomena ini, yang disebut presisi, berarti tiap titik kutub membidik bintang berbeda selama waktu berjalan. Menzies menggunakan software untuk merekonstruksi posisi bintang-bintang seperti pada masa tahun 1421.



“Kita sudah memiliki peta bintang Cina kuno namun masih membutuhkan penanggalan petanya,” kata Menzies. Saat sedang bingung memikirkan masalah ini, tiba-tiba ditemukanlah pemecahannya. “Dengan kemujuran luar biasa, salah satu dari tujuan yang mereka lalui, yakni antara Sumatra dan Dondra Head, Srilanka, mengarah ke barat.”



Bagian dari pelayaran tersebut rupanya sangat dekat dengan garis katulistiwa di Samudera Hindia. Adapun Polaris, sang bintang utara, dan bintang selatan Canopus, yang dekat dengan lintang kutub selatan, tercantum dalam peta. “Dari situ, kita berhasil menentukan arah dan letak Polaris. Sehingga selanjutnya kita bisa memastikan masa dari peta itu yakni tahun 1421, plus dan minus 30 tahun.”



Sequoyah Atas temuan tersebut, Phillip Sadler, pakar navigasi dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan perkiraan dengan menggunakan peta kuno berdasarkan posisi bintang amatlah dimungkinkan. Dia juga sepakat bahwa estimasi waktu 30 tahun, seperti dalam pandangan Menzies, juga masuk akal.





Selama ini, masyarakat dunia mengetahui kiprah Zheng He sebagai penjelajah ulung. Dia terlahir di Kunyang, kota yang berada di sebelah barat daya Propinsi Yunan, pada tahun 1371. Keluarganya yang bernama Ma, adalah bagian dari warga minoritas Semur. Mereka berasal dari kawasan Asia Tengah serta menganut agama Islam.



Ayah dan kakek Zheng He diketahui pernah mengadakan perjalanan haji ke Tanah Suci Makkah. Sementara Zheng He sendiri tumbuh besar dengan banyak mengadakan perjalanan ke sejumlah wilayah. Ia adalah Muslim yang taat.



Yunan adalah salah satu wilayah terakhir pertahanan bangsa Mongol, yang sudah ada jauh sebelum masa dinasti Ming. Pada saat pasukan Ming menguasai Yunan tahun 1382, Zheng He turut ditawan dan dibawa ke Nanjing. Ketika itu dia masih berusia 11 tahun.



Zheng He pun dijadikan sebagai pelayan putra mahkota yang nantinya menjadi kaisar bernama Yong Le. Nah kaisar inilah yang memberi nama Zheng He hingga akhirnya dia menjadi salah satu panglima laut paling termashyur di dunia.













sumber :http://terselubung.blogspot.com/2010/08/ternyata-islam-sudah-ada-di-amerika.html

Pemerintah Cina Larang dan Batasi Muslim Uighur Puasa dan Tarawih



Muslim Uighur kembali menderita di bawah episode terbaru tindakan keras pemerintah Cina terhadap minoritas etnis di wilayah barat laut Xinjiang itu, yakni berupa pembatasan atau pelarangan berpuasa dan beribadah di masjid-masjid. “Jika ada tokoh agama membahas Ramadhan selama kegiatan keagamaan, atau mendorong orang untuk ambil bagian, maka mereka akan kehilangan lisensi untuk berdakwah,” kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia yang berbasis di Munich pekan lalu.

Pembatasan juga dilakukan kepada mereka yang mencoba untuk menghadiri shalat di masjid-masjid. Bagi mereka yang ingin shalat di Masjid harus mendaftar dengan kartu identitas nasional mereka. "Mereka harus mendaftar, dan setelah selesai shalat dan berdoa mereka tidak diizinkan untuk [berkumpul dan] berbicara satu sama lain

Pembatasan juga dilakukan kepada mereka yang mencoba untuk menghadiri shalat di masjid-masjid. Bagi mereka yang ingin shalat di Masjid harus mendaftar dengan kartu identitas nasional mereka. "Mereka harus mendaftar, dan setelah selesai shalat dan berdoa mereka tidak diizinkan untuk (berkumpul dan berbicara satu sama lain)



“Kasus yang lebih sirus adalah penangkapan dan penghasutan bagi mereka yang melakukan ibadah, yang dinilai ilegal,” katanya lagi.

Dilarang Berpuasa

Saat bulan suci Ramadhan dimulai, Beijing ‘menampar’ Muslim Cina dengan pelarangan. Muslim Cina yang berada di bawah Pemerintah Propinsi Xinjiang, diminta menandatangani semacam ‘surat tanggung jawab’ yang isinya berjanji untuk tidak berpuasa dan shalat tarawih atau kegiatan keagamaan lainnya selama ramadhan.

“Puasa selama bulan Ramadhan adalah kebiasaan etnik tradisional, dan mereka diperbolehkan untuk melakukan itu,” kata seorang karyawan di kantor lokal pemerintah daerah di ibukota wilayah Urumqi. “Tapi mereka tidak diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan keagamaan selama Ramadhan,” katanya mentambahkan.

“Anggota Partai tidak diperbolehkan berpuasa selama Ramadhan, begitu juga dengan PNS,” ujarnya lagi. Sementara perusahaan swasta menawarkan makan siang selama jam puasa kepada karyawan Muslim Uighur. Siapapun yang menolak untuk makan bisa kehilangan bonus tahunan mereka, atau bahkan pekerjaan mereka, Raxit menambahkan.

Para pejabat juga menargetkan sekolah Islam, untuk menyediakan makan siang gratis selama masa puasa. Seorang warga Uighur Beijing mengatakan siswa di bawah 18 tahun dilarang puasa selama bulan Ramadhan. Selain itu, kampanye pemerintah memaksa restoran di wilayah mayoritas Muslim untuk tetap buka sepanjang hari.

Pembatasan juga dilakukan kepada mereka yang mencoba untuk menghadiri shalat di masjid-masjid. Bagi mereka yang ingin shalat di Masjid harus mendaftar dengan kartu identitas nasional mereka. “Mereka harus mendaftar, dan setelah selesai shalat dan berdoa mereka tidak diizinkan untuk [berkumpul dan] berbicara satu sama lain,” tandasnya.

Sehari sebelum dimulainya bulan suci ramadhan bagi umat Islam Cina, setidaknya 11 orang tewas dalam serangkaian serangan di wilayah utara-barat Xinjiang. Pihak berwenang Cina menyerang minoritas etnis, setelah polisi Cina menembak mati dua Muslim pada Minggu lalu.

Serangan itu terjadi kurang dari dua minggu setelah 18 orang tewas dalam serangan di wilayah Xinjiang yang bergolak. Setelah kerusuhan, lebih dari 100 orang Uighur ditahan otoritas Cina. Penduduk setempat mengatakan, kebanyakan dari mereka yang ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka adalah mereka yang tengah beribadah di masjid dan istri mereka yang mengenakan cadar.

Ibukota Xinjiang, Urumqi, merupakan adegan kekerasan yang mematikan pada Juli 2009 ketika minoritas Muslim Uighur dibuang terkait pembatasan Cina di wilayah tersebut. Pada hari-hari berikutnya, massa Han marah dan turun ke jalan dan melakukan balas dendam yang membawa kekerasan etnis Cina terburuk dalam dekade terakhir.

Kerusuhan tersebut mengakibatkan hampir 200 orang tewas dan 1.700 orang terluka, menurut angka pemerintah. Tapi Uighur, minoritas MUslim CIna yang berbahasa Turki Muslim, mengatakan jumlah korban jauh lebih tinggi terutama dari komunitas mereka. Pihak berrwenang Cina telah menghukum sekitar 200 orang, sebagian besar warga Uighur, atas kerusuhan tersebut dan dijatuhi hukuman, 26 dari mereka dijathui hukuman mati











sumber :http://ruanghati.com/2011/08/09/pemerintah-cina-larang-dan-batasi-muslim-uighur-puasa-dan-tarawih/

Masjid Jami Tan Kok Liong





Masjid Tan Kok Liong yang berarsitektur Tiongkok di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (8/8/2011). Masjid yang dibangun tahun 2005 tersebut merupakan bagian dari komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Terpadu At-Ta’ibin yang didirikan oleh M. Ramdhan Effendi atau lebih dikenal dengan nama Anton Medan, mantan napi yang kemudian sukses menjadi da’i dan pengusaha. Tan Kok liong adalah nama beliau semasa masih kanak kanak. Foto: VIVAnews/Muhamad Solihin.












sumber :http://foto.vivanews.com/read/4041-masjid-jami-tan-kok-liong

Berkunjung Ke Masjid Cut Mutiah



Masjid Cut Mutiah merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta, khususnya Jakarta Pusat,(9/8). Masjid ini merupakan salah satu masjid bekas peninggalan pemerintah Belanda yang dulunya merupakan kantor biro arsitek N.V. Boewploeg. Salah satu keunikan Masjid Cut Mutiah adalah Mihrab dari masjid diletakan disamping kiri tidak ditengah pada lazimnya. (Foto:VIVAnews/Fernando Randy)












sumber :http://foto.vivanews.com/read/4045-berkunjung-ke-masjid-cut-mutiah

[Amazing]Wow.. Inilah Foto Foto Suasana Ramadhan Di Berbagai Belahan Dunia [Full Pic]







An elderly husband and wife read from the Quran together near Orlando, Florida on September 5th, 2010. Along with prayers, reading from the Quran is especially emphasized during the last ten days of Ramadan. (© Sammy Abusrur)





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x627.




My younger brother prays Salat, the obligatory prayer during Ramadan at our home in Toronto, Ontario





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x643.




Ramadan's Cannon is an old Egyptian tradition, where it announces the end of a day of Ramadan's fasting on August 15th, 2010, in El-Mahalla El-Kubra, Egypt





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x555.




August 11th 2010 marked the first day of the Holy Month of Ramadan in North America





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x654.




A small kid smiles at me during the late Friday prayer at the Ramadan at the Al Amine mosque in Beirut, Lebanon





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x697.




A Turkish Muslim boy is praying in the New Mosque in central Istanbul, Turkey during the Month of Ramadan on August 12th, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x652.




People usually buy many kind of cakes, foods, beverages to break their fast later during Maghrib time





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x660.




A steel bucket containing "Aloo ki subji" (curry made of potatoes and varied spices) to be served along with "Kachori" (deep fried patties, made with white flour, ghee and water, stuffed with spiced mashed vegetables or pulses) in preparation for iftaar during Ramazan





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x654.




Sheikh Hassan al-Karbalai (center) leads the congregation in ziyarat prayer at the Ahlul Bayt Mosque on Atlantic Ave in Brooklyn, New York on August 19th, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x644.




This was a salatul Fajr on the beach event in Cocoa Beach, Florida in August of 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x659.




Workers were mixing the Dodol Betawi (Betawi traditional cake) in the village of Dodol Betawi maker, Kalibata, Jakarta on September 2nd, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x645.




A stall which sells prayer caps has a doll dressed up in traditional Arab style at Shivaji Nagar in Bangalore, India on September 4, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x642.




Big man in life before breakfast, reading a Koran at a mosque in Riyadh, Saudi Arabia on August 25, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x648.




God's name captured in a ray of light just prior to the start of Ramadan





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x658.




Little girls prepare to break their day-long fast at the Islamic Center in Wayland, Massachusetts on September 4th, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x652.




Every year, during Ramadhan, especially when it's almost come to its end, the longest bazaar of all will happen in Kuala Lumpur





Click this bar to view the small image.




A Sheikh teaches kids Qura'n...





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x687.




Muslims at the Kaaba, in Mecca, Saudi Arabia





A man prays in Al Sultan Hassan mosque in Cairo, Egypt on August 20th, 2010





As I nibble ever so slightly savoring each bite of the date, I thank Allah from the bottom of my heart for giving this to me





Worshipers are waiting for the beginning of the Friday prayer during the holy month of Ramadan at Eyup Sultan mosque in Istanbul, Turkey on August 20th, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x654.




Ramadan sparks American Muslims to increase their acts of charity by giving away free school bags to several communities in New York, USA on Sunday, August 29th 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x678.




He will no doubt be joined by many more destitute people seeking a place to lay their heads as beggars descend on the capital during Ramadan, hoping to capitalize on people's goodwill during the holy season





Muslim women offer afternoon prayer at a temporary musholla (praying area) in a community festival in Jakarta, Indonesia on Augiust 28th, 2010





Halal lamb meat cooking for Iftar in the month of Ramadan in the Chechen family of students living in Malaysia, September 5th, 2010





Nadine Abu-Jubara & Shazma Palliagath blow bubbles at the annual Fast-a-thon (an event hosted by the Muslim Student Association) in Orlando, Florida on September 1, 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x663.




A man raises his hands in supplication right before the fast is about to open, in Pomona, California





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x648.








This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x640.




Worshipers are pictured trough the wooden partition which separate the muslim women from the men during the Friday pray of the holy month of Ramadan at Eyup Sultan mosque in Istanbul, Turkey





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x653.




A Canadian Muslim woman stands in prayer near the national coffee chain Tim Hortons in Toronto, Ontario on September 6th 2010









Traditional colorful fawanees medals hang in Ghorya, Cairo, Egypt on August 12 2010





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x672.




A man takes a rest after the afternoon prayer at the Istiqlal Mosque in Jakarta, Indonesia





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x686.




A young American Muslim puts his hands together to offer prayer on the last Friday of Ramadan, moments before Iftar, the evening meal when Muslim break their fast during Ramada





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x657.




A food bazaar in Malaysia during month of Ramadan





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x553.




Muslims in Southern California listen to cleric Yasir Qadhi speak in between portions of the Qiyam-ul-Layl (Night Vigil Prayer) on Saturday, August 4, 2010 in Irvine, California





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x636.




Suriname imported Javanese Muslim contract workers from Java, Indonesia 150 years ago after the abolition of slavery during its Dutch-controlled colonial period





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x647.




A top view from the minaret of Al Azhar mosque showing two people entering the mosque to pray on August 14th, 2010 in El Sakakeny, El Zaher, Cairo, Egypt





This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x667.


[/spoilar]

Open doors, open minds: Emiratis and expats share an Iftar and talk about Islam and about the things that make us different and the things that make us all same - at the Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding, in Dubai on September 3rd, 2010.





Muslims pray during Ramadan at Ottawa Mosque, Ottawa, Canada



{spoiler]


This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 956x608.




The mosque gets decorated like this every year and the lights shine for the entire 30 nights of Ramadan, showing a beautiful piece of architecture



This image has been resized. Click this bar to view the full image. The original image is sized 990x625.


A muslim woman takes in the sunrise at the side of a mass prayer in the desert at Parangkusumo, Yogyakarta, Indonesia








 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. teknologi terbaru - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger